Alasan Tidak Ditangkapnya HB IX

Alasan Tidak Ditangkapnya HB IX

Alasan Tidak Ditangkapnya HB IX

Alasan Tidak Ditangkapnya HB IX

Ketika Belanda melakukan agresi (19 Desember 1948), Presiden dan Wakil Presiden ditangkap. HB IX tidak ditangkap dan kelanjutan RI bergantung pada kepemimpinannya. HB IX berpesan kepada Mr Soedarisman Poerwokoesoemo (walikota) bahwa kalau keadaan gawat, serahkan kepada Sultan. Meski kemudian Mr Safruddin Prawiranegara (Menteri Kemakmuran) ditunjuk untuk membentuk Pemerintahan Darurat di Sumatera, kondisi vakum di Yogyakarta sangat membahayakan eksistensi RI.

Pada waktu itu, HB IX melakukan tindakan paling menentukan. Saat dibujuk dan ditawari Belanda untuk menjadi Wali Negara atas Jawa, HB IX menolak mentah-mentah. Utusan-utusan Belanda yang datang melobi – EM. Stok, Dr Berkhuis, Kolonel Van Langen – ditolak oleh Sultan. Sikap anti kolonial HB IX dan PA VIII didukung penuh rakyat Yogyakarta. Selanjutnya, melalui Serangan Umum 1 Maret 1949, Yogyakarta menjadi penentu tumbuhnya pengakuan internasional atas tegaknya RI. Dalam serangan taktis itu, HB IX adalah aktor intelektualnya. Terhitung dari tanggal 19 Desember 1948 sampai tanggal 30 Juni 1949, perjuangan rakyat Yogyakarta untuk Indonesia telah menjatuhkan korban tewas 2.718 orang, korban luka berat 736 orang, korban hilang 539 orang, serta menghabiskan dana perang sebesar Rp 332.684.450

 

Analisis:

  1. Siapakah “dalang” di belakang serangan satu Maret?
  2. Apa strategi militer yang digunakan untuk menghadapi Belanda?
  3. Apa dampak serangan umum satu maret bagi Belanda
  4. Apa alasan Belanda tidak menangkap HB IX?
  5. Apa konsep perang Gerilya?

 

Jawaban:

Dari data yang telah saya cari dan saya tandai dari teks diatas, terlihat teori yang paling memungkinkan ialah dimana pemimpin utama dari seluruh operasi ini ialah Jenderal Soedirman. Dikarenakan Sultan HB IX tidak terdapat di dalam susunan militer Indonesia hampir tidak mungkin seorang Sultan HB IX tersebut menyusun operasi militer ini. Seperti kutipan teks diatas “Dengan demikian, tidak mungkin seseorang yang berada di luar garis komando dapat memberikan perintah kepada komandan pasukan untuk mengadakan suatu operasi militer, di mana juga akan melibatkan pihak dan pasukan lain. Untuk melibatkan pasukan dengan komandan yang sejajar dengan dia saja sudah tidak mungkin, karena harus ada persetujuan dari atasan; apalagi memberikan instruksi kepada atasan dan pihak di luar Angkatan Darat. Dengan demikian apabila disebutkan, bahwa perintah serangan diberikan oleh seseorang yang berada di luar garis komando militer, adalah sangat tidak masuk akal.” Selain itu juga dapat kita lihat dari sumber diatas dimana Jenderal Soedirman terus menerus memberikan perintah dan arahan meskipun Ia terus memindahkan tempat persembunyiannya. Selain itu juga dapat kita lihat dimana hampir tidak mungkin Seorang Letkol Soeharto

baca juga :